FAI UMSB Gelar Kuliah Umum, Bahas Problematika Terjemah Alquran di Indonesia


UMSB – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) menggelar kuliah umum mengambil tema Problematika Terjemahan Al-Qur’an di Indonesia, pada Rabu, 15 Mei 2019 di ruang seminar lantai II Gedung Program Pascasarjana.



Hadir sebagai pemateri Kuliah Umum ini Fadli Lukman, M.Hum, merupakan teman Rektor UMSB, Dr. Riki Saputra. Fadli saat ini sedang melanjutkan studi doktor di Albert-Ludwing-Universitat Freiburg-Jerman dan sudah semester akhir.

Dekan Fakultas Agama Islam Firdaus AN, M.HI mengatakan dalam sambutannya ini kali kedua Fadli ke UMSB, “Pak Ffadli ini sudah dua kali datang ke UMSB untuk berbagi ilmu kepada kita semua dan beliau ini ternyata orang minang yang beralamat di Kabupaten Agam,” terang Firadus. Ia juga mengungkap saat ini FAI UMSB bertambah lagi pengajar yang bergelar doctor yakni Lahmi dan Rahmi.


Kemudian tentang al-qur’an misalnya terjemahan Al-qur’an tentang fajar yang artinya dirikanlah shalat subuh sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan, kata fajhri diterjemahkan sungguh sehingga masyarakat umat islam di Indonesia menyebut shalat subuh tapi kalau kalimatnya fajar fajri dan saya mengira terjemahan itu sejak belanda masuk ke Indonesia sudah ada kerajaan-kerajaan islam, tambahannya.

Selanjutnya materi yang disampaikan oleh Fadhli “Terjemahan itu adalah salah satu peran yang sangat penting dengan makna kalau kita tidak paham dengan Alquran untuk apa sekedar dibaca (kata Kartini) terjemahan itu sebagai riwayat bahkan sebagai tafsir, terjemahan tidak bisa dipisahkan dari Al-Qur’an tapi terjemahan tidak boleh lebih tinggi kedudukannya dari al-qur’an karena itu sangat bertentangan dengan akidah Al-qur’an. Apabila dilihat pada sisi politik, terjemahan alqur’an itu di zaman Soekarno sebagai kekuatan Nasionalisme karena Soekarno pada saat itu membutuhkan suara muslim, maka ia membangun apa yang dibutuhkan orang-orang islam. Maka Soekarno mengumpulkan sarjana untuk menerbitkan penerjemahan Alquran Kemenag karena ia tidak mau pemimpinnya runtuh,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa “Terjemahan alqur’an itu penting sekali, karena masyarakat awam tidak tau dengan makna dari ayat Alqur’an dalam bentuk bahasa arab. Maka dari terjemahan ini perlu pengenalan pada masyarakat,” ungkapnya.

Klik untuk Komentar