Hanya Empat Organisasi Mahasiswa yang Boleh Ada di PTM


Jakarta - Wakil Ketua Mejelis Dikti Litbang PP Muhamadiyah Dr Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan bahwa hanya ada 4 organisasi kemahasiswaan yang boleh berada di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Ke-4 organisasi Muhammadiyah tersebut adalah IMM, DPM, BEM dan UKM. Hal itu sesuai dengan pedoman dan aqidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Edutorium UMS Surakarta
Edutorium UMS Surakarta

“Keempat organisasi ini harus dibina oleh PTM sehingga bisa menjadi “kader” persyarikatan,” kata Sudarnoto saat menyampaikan keynote speech pada Pembukaan Rakernas Kemahasiswaan PTM di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Organisasi lain seperti HMI,  PMII,  HTI,  GMNI dan lainnya lanjut Sudarnoto, tidak boleh ada di PTM. Larangan tersebut  bukan karena tidak suka terhadap organisasi-organisasi mahasiswa tersebut.  Akan tetapi karena PTM itu adalah “rumah sahnya” IMM,  DPM, BEM dan UKM.  Dan pimpinan PTM harus tegas taat melaksanakan aturan ini.




“Ada indikasi sebagian PTM membiarkan organisasi kemahasiswaan seperti HMI,  PMII,  HTI dan lain lain melakukan kegiatan dan menggunakan fasilitas PTM,” lanjut Sudarnoto.

Lebih lanjut ia mengingatkan bahwa PTM adalah milik persyarikatan dan merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah yang harus diselenggarakan dalam rangka amar ma’ruf nahy munkar melalui bidang pendidikan tinggi.  Karena itu,  filosofi PTMA berbeda sekali dengan pergururuan tinggi lainya karena ada misi utama yaitu amar ma’ruf nahy munkar sebagai pengejewantahan dari Islam Berkemajuan.

Dengan demikian jelas Sudarnoto, PTM disamping mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi,  seni,  juga memberikan perhatian secara serius  pada pembangunan karakter dan merawat bangsa. Inilah letak urgensi al Islam dan Kemuhammadiyahan.




Menurutnya setiap PTM wajib memenuhi standard mutu sebagaimana perguruan tinggi lainnya sehingga kompetitif dan bisa Go International sebagaimana amanah Muktmar. Disamping itu,  PTM harus  menegakkn AIK kepada seluruh civitas akademika.

“Jadi PTM juga menjadi pusat kaderisasi termasuk bagi mahasiswa,” tegas Sudarnoto.

Sudarnoto mengingatkan bahwa sebagai penyemaian kader persyarikatan,  PTM memiliki tugas untuk membina dan mengembangkan Ranting dan Cabang Muhammadiyah dan ortom. Karena itu,  Ortom seperti Tapak Suci,  Hizbul Watan,  NA dan lain-lain perlu dikembangkan di PTM.

Adapun kegiatan pembinaan kemahasiswan diorientasikan kepada, pertama ideologis. Dimana menegakkan AIK adalah kewajiban PTM sehingga diyakinkan bahwa mahasiswa dan semua organisasi kemahasiswaan memahami dan secara konsisten berpegang teguh kepada dasar ideologi Muhammadiyah dan juga ideologi bangsa.

Kedua adalah leadership. Bahwa PTM berkewajiban membina mahasiswa dan semua organisasi kemahasiswaan agar mereka benar-benar bisa diharapkan menjadi aktivis, penggerak dan pemimpin yang berkarakter dan handal. Mereka adalah kader persyarikatan.

Lalu ketiga adalah Intelektual. Upaya sistimatik untuk membina bidang intekektual adalah kewajiban PTM. Mahasiswa PTM haruslah seorang kader intelektual persyarikatan yang disamping kokoh karakternya juga luas dan mendalam ilmu pengetahuannya sekaligus memiliki kemampuan utk mencerahkan masyarakat. Mahasiswa FAI misalnya harusnya menjadi kader Ulama. Kita di persyarikatan semakin merasakan kekurangan kader – kader ulama yang ahli bidang tafsir,  ushul fiqh, dan lainnya.  Dan FAI harusnya menjadi tempat kaderisasi ulama.

Kemudian keempat adalah  Enterpreneurship. Bahwa PTM wajib membina mahasiswa yang memiliki jiwa kewirausahaan yang berdedikasi tinggi. Sebab Indonesia juga membutuhkan anak-anak bangsa yang bisa membangun kehidupan secara mandiri, produktif dan inovatif. [Inung Kurnia]

Sumber: mediamu.id

Klik untuk Komentar