Kader Muhammadiyah, Memahat Kemanfaatan Bagi Semesta


1.   “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (Riwayat Ahmad)


Pada titik akhir kemanfaatanlah nilai kehidupan  manusia ditentukan. Kemanfaatan yang tidak hanya tersemat dalam diri. Namun meruah kepada keluarga, masyarakat, dan semesta. Ia menjadi tanda syukur atas karunia Allah yang melimpah. Ia sebagai wujud tugas kekhalifahan di bumi. Lalu lewat kemanfaatan itu pula manusia mencapai derajat khairunnas, insan terbaik.


Cukuplah berdiam di Gua Hira’ maka tidak akan ada kebencian dari orang-orang kafir. Tetaplah bersembahyang di dalam rumah, maka kaum Quraisy tak akan mengusir. Diamlah, dan lupakan kalimat, ‘Ahad, Ahad, Ahad’ maka tak akan ada lagi siksaan dari majikan, Umayah bin Khalaf. Tapi itu tak akan pernah menjadi pilihan pribadi-pribadi agung umat ini. Muhammad Saw, Abu Bakar Ash Shidiq dan Bilal bin Rabah. Setelah kebenaran menghunjam di hati, ada kerja yang harus dijalankan agar ia memberi kemanfaatan bagi semesta.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim [14]: 24-25).


Ego seringkali menjebak orang bijak. Asyik membangun kesalehan diri lalu mengabaikan orang lain. Dengan dalih menjaga kesucian lalu enggan memperbaiki lingkungan yang ‘kotor’. Melalaikan tugas dakwah yang dipikulkan pada setiap insan. Mereka lupa sedang berada dalam perjalanan di atas lautan.

Dari Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w. bersabda: "Perumpamaan orang yang berdiri tegak pada had-had Allah dan orang yang menjerumuskan diri di dalam had-had Allah adalah sebagai perumpamaan sesuatu kaum yang bersama-sama ada dalam sebuah kapal, maka yang sebagian dari mereka itu ada di bagian atas kapal, sedang sebagian lainnya ada di bagian bawah kapal. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal itu apabila hendak mengambil air, tentu saja melalui orang-orang yang ada di atasnya, maka mereka berkata: "Bagaimanakah andaikata kita membuat lobang saja di bagian bawah kita ini, suatu lobang itu tentunya tidak mengganggu orang yang ada di atas kita."

Maka jika sekiranya orang yang bagian atas itu membiarkan saja orang yang bagian bawah menurut kehendaknya, tentulah seluruh isi kapal akan binasa. Tetapi jikalau orang bagian atas itu mengambil tangan orang yang bagian bawah tentulah mereka selamat dan selamat pulalah seluruh penumpang kapal itu." (Riwayat Bukhari)

Setiap manusia memiliki kemampuan yang dengannya tugas dakwah bisa dilakukan. Jika mampu mencegah kemunkaran dengan tangan (kekuasaan) maka lakukanlah karena itu suatu kelebihan. Jika mampu mencegah kemunkaran dengan lisan maka ucapkanlah karena itu menjadi keharusan. Jika tidak ada kemampuan keduanya, maka pengingkaran hati menjadi pilihan akhir, maka inilah selemah-lemahnya iman. Kurang dari itu, tidak ada lagi sisa keimanan.


Untuk menebus kesalahan di masa lalu, Fudhail bin ‘Iyadh, seorang yang zuhud, mengikrarkan diri tinggal di Baitul Haram. Hari-harinya dilalui dengan taubat dan ibadah. Tak terhitung berapa banyak ia menangis sampai-sampai ada bekas aliran air mata di pipinya. Suatu saat Abdullah Ibnu Mubarak, seorang ‘ulama ahli hadis, memberinya nasihat penuh makna.

“Wahai ‘abid Al Haramain, seandainya engkau memperhatikan kami, engkau akan tahu bahwa selama ini engkau hanya bermain-main dalam beribadah.
Kalau pipi-pipi kalian basah dengan air mata,
Maka leher-leher kami basah bersimbah darah,
Kalau kuda-kuda kalian letih dalam hal yang sia-sia,
Maka kuda-kuda kami letih di medan laga,
Semerbak wanginya parfum itu untuk kalian,
Sedangkan wewangian kami pasir dan debu-debu,

Telah datang Al Quran kepada kita menjelaskan, para syuhada tidak akan pernah mati, dan itu pasti.”

Nasihat yang membuat Fudhail tersentak. Mebangunkan kesadaran yang selama ini tersamarkan. “Engkau benar Ibnul Mubarak. Demi Allah engkau benar!” ucapnya penuh ketegasan.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (Ali 'Imran [3]: 169)

Mengukir Prestasi Terbaik
Diam itu baik, ketika tak ada pilihan kata yang lebih berguna. Tetapi saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran menjadi lebih baik agar manusia tak terjebak dalam kerugian. Bersikap hemat itu baik, ketika harta hanya digunakan untuk pemborosan. Tetapi memperbanyak shadaqah akan menjadi lebih baik, agar kelak harta tidak menjadi beban saat tanggungjawab diminta. Mengistirahatkan badan itu baik, ketimbang beraktifitas untuk kesiaan. Tetapi mencurahkan keringat untuk kerja yang bermanfaat akan lebih baik hingga keletihan berbalas pahala.
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (Riwayat Ahmad)


Beramallah dengan amal terbaik. Memilih amal terbaik berarti menggunakan puncak dari kemampuan. Mengeliminasi segala kemalasan yang bersarang dalam raga. Menyingkirkan bermacam alasan yang selalu saja ada. Tidak mudah memang. Tapi kehidupan ini tinggal menyisakan dua peluang. Mengikuti jalan terjal penuh liku lalu menjadi pemenang. Inilah kebajikan. Atau menelusuri jalan mudah tapi penuh tipuan lalu menjadi pecundang. Itulah kesesatan.
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan), Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar, Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Kemudian ia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (Al Balad [90]: 10-18)

Pahatkanlah kemanfaatan bagi semesta. Tentu setiap diri punya kapasitas dan potensi yang berbeda. Itu tak jadi soal karena setiap insan diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ketika kata yang dipunya, bercerminlah kepada Abu Bakar, sang pembenar yang tak pernah gentar.

Rasulullah bersabda, “Ketika kafir Quraisy menganggap aku berdusta tentang kabar (isra’ mi’raj) maka aku bediri di Hijir (Ismail) dan ditampakkan bagiku Baitul Maqhdis. Lalu aku mengabarkan kepada mereka tentang tanda-tanda Baitul Maqhdis sambil aku memandang kepadanya.” (Riwayat Bukhari dari Jabir bin Abdullah ra.)

Meskipun demikian, masih saja banyak orang yang tidak percaya dengan perjalanan isra’ mi’raj. Jangankan kafirin, sebagian orang mukmin pun tak mempercayainya. Tampillah Abu Bakar, “Aku bersaksi bahwa ia (Nabi) benar.”
Mereka bertanya, “Apakah kamu juga membenarkan Nabi telah tiba di Syam dan kembali lagi ke Makkah, hanya dalam tempo satu malam?
“Ya. Lebih dari itupun aku tetap membenarkannya. Aku percaya dengan berita langit dan membenarkannya.”
Pantaslah bila ia digelari Ash Shidiq, orang yang membenarkan.

Ketika raga punya kemampuan tenaga. Contohlah ‘Umar, kegagahan dan sikapnya yang tegas membuat barisan Islam kian kokoh.
“Kami selalu merasa bangga sejak ‘Umar masuk Islam,” begitu pengakuan Ibnu Mas’ud. “Islamnya ‘Umar adalah suatu kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Demi Allah, sebelum ‘Umar masuk Islam kami tak berani terang-terangan shalat di sekitar Ka’bah. Namun ketika ‘Umar masuk Islam, ia perangi mereka sehingga mereka tidak lagi mengganggu kami shalat.”

Ketika punya kemampuan harta. belajarlah dari kedermawanan Utsman bin Affan.
Ialah yang membeli sumur Raumah, satu-satunya sumber air tawar di Madinah ketika kemarau panjang melanda, hingga setiap orang yang meminumnya wajib membayar. Utsman membelinya seharga tiga puluh lima ribu dirham dan segera ia infakkan untuk umat Islam. Pada perang Tabuk ketika berhadapan dengan tentara Rum, Utsman menyumbang tiga ratus ekor unta berikut perlengkapannya, ditambah seribu dinar.
“Siapa yang menolong pasukan (muslim) yang dalam keadaan sulit, ia akan memperoleh surga.” (Riwayat Bukhari)

Ketika punya ilmu dan pemikiran yang berguna bagi perjuangan Islam. Teladanilah ‘Ali bin Abi Thalib, gerbangnya ilmu pengetahuan.
Potret kesederhanaan lekat dalam dirinya. Tapi keluasan ilmunya tak ada yang meragukan. Meski usianya lebih muda dibanding sahabat lain, ia tak sungkan memberikan ide dan pemikiran. Ialah yang mengajukan usulan penghitungan kalender Islam dimulai dengan hijrahnya Nabi. Maka dikenallah sampai sekarang penanggalan hijriyah.

Ambillah bagian dalam bangunan dakwah Islam. Pahatkan kemanfaatan bagi semesta. Bukan hanya diam atau menyendiri di ruang sunyi. Agar wajah Islam tak hanya ditemukan di masjid, surau-surau, atau di atas sajadah. Tapi bisa tercermin di semesta alam ini dengan penuh rahmah.

Mari bergerak bersama Muhammadiyah, sebagai jalan untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Karena Islam datang untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Wallahu a’lam bi shawwab

Catatan Senin Pagi CSP#1

Klik untuk Komentar