Membangun Pilar Ekonomi untuk Dakwah Muhammadiyah


1.    KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah paham betul kekuatan ekonomi menjadi pilar dakwah yang tidak bisa dianggap remeh. Dengan posisinya sebagai juragan batik, Kyai Dahlan dan penggerak awal persyarikatan bisa leluasa berdakwah ke berbagai penjuru nusantara. Begitupun untuk melakukan dakwah bil hal, menyantuni orang miskin, merawat anak yatim, mendirikan sekolah dan rumah sakit mampu terlaksana dengan sokongan dana. Tidak mengharapkan bantuan dari pihak lain.




Dr. Anwar Abbas, Ketua Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah pernah mengungkapkan, saudagar Muslim khususnya warga Muhammadiyah harus bekerja keras untuk terus berinovasi dan merebut kepercayaan pasar. Hal itu disampaikannya pada saat menutup Silaturrahim Kerja Nasional Jaringan Saudagar Muhammadiyah (Silaknas JSM) di Bandung beberapa waktu lalu.

Menurutnya ada tiga kunci sukses yang bisa diambil dari pendiri Microsoft, Bill Gates. Pertama adalah trust (kepercayaan). Kedua, innovation. Ketiga, networking (jaringan). Ketiganya menjadi rumus ampuh sehingga sampai kini Bill Gates dan Microsoft masih bisa bertahan dari serbuan para pendatang di bidang teknologi komputer dan internet.

Momentum Kebangkitan

Setiap hari miliaran hingga triliunan rupiah dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Umat Islam sebagai mayoritas baru sebatas sebagai konsumen. Sebagian besar keuntungan justru didapatkan oleh segelintir pemodal yang tidak sejalan dengan perjuangan Islam. Kini saatnya umat Islam berdikari, bermula dari yang kecil, sedikit, untuk menjadi pemain utama perkenomian Indonesia.

Kemajuan teknologi informasi memberikan angin segar bagi siapapun yang ingin berkembang. Kini, untuk melakukan promosi kita tidak lagi terkendala keterbatasan dana untuk beriklan di media masa. Karena beragam fasiltas di internet telah memungkinan setiap orang melakukan promosi dan berkomunikasi secara masif. Ini menjadi momentum bagi pelaku ekonomi Muhammadiyah untuk menggarap pasar yang sudah terbentuk, yakni warga persyarikatan.

Muhammadiyah telah memiliki beragam amal usaha di bidang ekonomi, meskipun belum tergarap dengan baik. Tetapi bisa menjadi modal untuk membentuk jejaring usaha dan pemberdayaan ekonomi. Apalagi saat ini kesadaraan warga Muhammadiyah untuk kembali memakmurkan amal usaha Muhammadiyah terus meningkat. Ini menjadi waktu yang tepat bagi Muhammadiyah serius menggarap bidang ekonomi.

Sebagaimana diamanatkan pada Muktamar ke 47 di Makassar, bidang ekonomi menjadi pilar ke-3 dalam gerakan dakwah Muhammadiyah setelah bidang pendidikan dan kesehatan. Umat menunggu kiprah Muhammadiyah untuk tampil ke depan, menjadi pionir dalam mewujudkan bangsa yang mandiri.

Memupus Warisan Kegagalan

Nur Astri Agustini, sebagaimana dirilis laman prezi.com, menguraikan karakteristik kegiatan ekonomi Muhammadiyah.
 Kurang atau tidak memiliki militansi yang tinggi, berkiprah apa adanya, dan berbuat sendiri-sendiri atau sibuk sendiri tanpa terkait dengan kepentingan Muhammadiyah.
 Lebih tertarik pada urusan politik dan hal-hal yang bersifat mobilitas diri serta tidak peduli pada kepentingan dakwah dan menggerakkan Muhammadiyah
 Kurang solid dan konsolidasi gerakan
 Kurang/lemah komitmen, pemahaman, dan pengkhidmatan terhadap misi serta kepentingan Persyarikatan.

Tentu tidak semua kesimpulan tersebut benar, tetapi setidaknya bisa menjadi rambu-rambu agar kegiatan ekonomi Muhammadiyah tidak lagi mengalami kegagalan. Sebab catatan kegagalan di berbagai lembaga ekonomi yang coba dirintis Muhammadiyah turut memerikan rasa trauma.

Maka sudah saatnya usaha ekonomi Muhammadiyah benar-benar dikelola secara profesional. Diurusi oleh mereka yang benar-benar kompeten yang mengutamakan kepentingan Muhammadiyah. Sehingga bisa fokus dalam pengembangan usaha, tidak terbagi dengan kepentingan  pribadi.

Membangun Kemandirian Finansial Kader

Tentu tidak pula bisa dilalaikan, para kader persyarikatan tentu juga harus memperhatikan kemandirian secara finansial. Karena mereka memiliki tanggung jawab terhadap keluarga. Sudah sewajarnya jika tema tentang kemandirian finansial dimunculkan dan mendapat perhatian dalam program dan kegiatan Muhammadiyah.

Dengan kondisi keuangan yang cukup, para kader akan lebih fokus dalam dakwah serta bisa melakukan dakwah bil hal dengan harta yang dimiliki. Kemandirian ini bisa dibangun dengan membuat jejaring usaha yang saling menguntungkan. Dengan memetakan potensi masing-masing kader kemudian dikelola sebagai sebuah kerjasama yang saling menguntungkan.

Di era teknologi informasi, mungkin kita tetap sulit mengalahkan para pemodal besar, tetapi sebagai komunitas dan loyalitas, kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap para pemodal besar. Dengan bertumpu kepada potensi antar kader. Ada yang usaha perdagangan bahan pokok, ada yang jasa potong rambut, ada yang membuka peternakan, percetakan, jasa rental, jasa arsitektur, dan sebagainya. Bila saling disinergikan niscaya menjadi potensi luar biasa.

Sekarang tergantung kita, apakah ekonomi dan wirausaha akan menjadi satu di antara fokus gerakan, atau sekedar angin lalu yang dilupakan. 

Catatan Senin Pagi CPS#2

Klik untuk Komentar